Percakapan dengan semesta

 

 Pidato Kebudayaan DKJ 2015, Hadirin yang saya muliakan, Ketika Karaeng Pattingalloang, perdana menteri Kerajaan Makassar, memesan sepasang bola dunia dan langit ke pusat pembuatannya di Eropa, ia memesan dan memanjar sebuah benda yang belum pernah ada di Bumi. 

Hingga dikirimkannya daftar pesanan aneka benda langka (rariteiten) yang  diteruskan ke Batavia pada 22 Juli 1644, bola dunia terbesar yang pernah dibuat oleh Keluarga Blaeu, pembuat peta dan bola dunia paling hebat di kurun itu, memiliki garis tengah 26 inci, atau 68 cm, saja. Bola dunia berdiameter 68 cm ini pernah dipesan oleh Ratu Christina dari Swedia, perempuan hebat yang mendahului jamannya dan digelari “Minerva Dunia Utara.” Bola dunia itu kemudian dikuasai Tsar Peter Agung dan kini masih tersimpan di Museum Sejarah Negara di Moskow. Bola dunia berukuran sama pernah juga dikoleksi oleh Pangeran Hans-Adam II dari Lichstentein, kepala negara paling kaya di Eropa. Benda itu kemudian muncul di rumah lelang Christie’s di London dan kini tercatat jadi milik The Iris Globe.
Selera intelektual Karaeng Pattingalloang, agaknya tak terpuaskan oleh bola dunia berdiameter standar 68 cm itu. Dramawan dan penyair terbesar Belanda di masa itu, Joost van den Vondel, mengabadikan ketidakpuasan Pattingalloang dalam sajak yang ia persembahkan buat tokoh yang nalarnya membidik ke segala arah itu, dan yang menganggap bola dunia seutuhnya bergaris tengah standar 68 cm itu tak memadai.[1] Sebagaimana ditulis sejarawan Denys Lombard, Pattingalloang merinci jelas  salah satu pesanannya: sepasang bola dunia dan langit dengan keliling 157 hingga 160 inci.  Jika dikonversi, bola dunia yang ia pesan itu bergaris tengah sekitar 127 cm, yakni dua kali lebih panjang garis tengahnya dan empat kali lebih besar volumenya dari bola dunia yang sudah ada.
Catatan kaki [1] Dien Aardkloot zend ‘t Oostindische huis

Den grooten Pantagoule t’huis,
Wiens aldoorsnuffelende brein,
Een gansche wereld valt te klein.
Men wensche dat zijn scepter wass’,
Bereyke d’eene en d’andere as,
En eer het slyten van de tyd
Dit koper dan ons vriendschap slyt.
 
“Bola dunia itu, Perusahaan Hindia Timur
Mengirimkannya ke istana Pattingalloang Agung
Yang otaknya menyelidik ke mana-mana
Menganggap dunia seutuhnya terlalu kecil.
Kami berharap tongkat kekuasaannya memanjang
Dan mencapai kutub yang satu dan yang lain
Agar keusuran waktu hanya melapukkan
Tembaga itu, bukan persahabatan kita.”
 
Joost van den Vondel, Volledige Dichtwerken. Lihat Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1996) Jilid 1, hal. 130. Bold pada terjemahan, dari saya ¾ NAA.  
Sepasang bola langit dan dunia yang dikerjakan sendiri oleh Joan Blaeu, tiba di Batavia pada 15 November  1650, dan diteruskan pengirimannya  ke Makassar pada 13 Februari 1651. Selain sajak Vondel, memang belum ditemukan catatan resmi yang menunjukkan bahwa sepasang bola terestrial dan selestial yang tiba tujuh tahun setelah dipanjar itu, ukurannya betul sesuai dengan rincian atau tantangan dari Pattingalloang —empat kali lebih besar dari bola dunia yang dimiliki oleh segelintir penguasa Eropa itu. Yang pasti, tantangan yang ada dalam pesanan Karaeng Pattingalloang itu telah menggemparkan banyak pihak, khususnya para kartograf dan kaum cendekiawan. Kota Amterdam dan majelis istana di Benua Eropa, tersentak  oleh skala pesanan pangeran dari Asia yang dahsyat itu. Joost van den Vondel, yang mengharapkan persahabatan kekal itu hanya salah satu di antara mereka yang tercengang.

Gairah besar pada pengetahuan ilmiah yang baru berkembang, kesiapan untuk menjumpai orang-orang Eropa terbaik di tanah air mereka sendiri, yang tercermin antara lain pada penguasaan berbagai bahasa asing, memang menonjol pada diri Pattingalloang. Tapi ia memang bukan satu-satunya tokoh di Asia Tenggara yang punya kecenderungan dan kemampuan itu, meski dengan kadar yang berbeda. Sebagaimana ditunjukkan oleh sejarawan Anthony Reid, ada sejumlah penguasa lain di A

Asia Tenggara abad ke-17 itu yang memiliki kecenderungan yang mirip. Raja Narai yang memerintah Ayuthia, Raja Laut yang mengatur Mindanau,  Syamsuddin As-Sumatrani yang membimbing Aceh, Sultan Agung yang membangun Mataram dan penasehatnya yang cemerlang Pangeran Pekik dari Surabaya,  Kyai Ngabehi Kaytsu dan Kyai Ngabehi Cakradana yang sangat berperan mengangkat kebesaran Banten di masa Sultan Ageng Tirtayasa, mereka ini adalah bagian dari lapisan literati kosmopolit yang tumbuh di Asia Tenggara. Mereka semua punya  ketertarikan pada, dan kemampuan memanfaatkan, pengetahuan baru, dan dengan caranya masing-masing, ikut menyumbang zaman keemasan perdagangan maritim di Negeri-negeri Bawah Angin.
Keterbukaan pada pengetahuan baru, yang berkait dengan kemampuan menghasilkan ciptaan akal budi yang memukau, memang bukan barang asing di di Nusantara. Akar-akarnya pun bisa ditelusuri sampai puluhan ribu tahun yang silam.
Tahun 2014 kemarin, Jurnal Nature dan Antiquity masing-masing memuat dua hasil penelitian yang menarik: Pleistocene cave art from Sulawesi, Indonesia dan The global implication of the early surviving rock art of greater Southeast Asia. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa manusia pra-aksara penghuni Asia Tenggara adalah makhluk kreatif dengan kemampuan artistik yang hebat. Mereka sudah mampu menciptakan karya seni yang bahkan mendahului sekitar 5000 tahun rock art di Eropa. Penelitian itu antara lain menandaskan bahwa 12 karya stensil tangan(hand stencil)dan 2 lukisan hewan (animal painting)“babi-rusa” yang terletak di Leang-leang, Maros, telah ada paling tidak sekitar 40.000 tahun lampau.
Kalau hanya untuk menyamai otak Barat, otak manusia Nusantara ini memang belum perlu dibongkar dan diasah, sebagaimana yang pernah diserukan Sutan Takdir Alisjahbana dalam Polemik Kebudayaan yang terkenal itu.  Lukisan cadas di Leang-leang yang terbentang di wilayah Maros dan Pangkajene, ikut menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan otak umat manusia di berbagai penjuru, kurang lebih hampir sama, dan nalar umat manusia dengan segenap daya ciptanya, telah menyala sejak leluhur kita merantau keluar dari Afrika. Dan kita pun bisa mengangguk lagi, dengan setengah tersenyum, pada paragraf pembuka novel montok Carlos Fuentes, Terra Nostra (Bumi Kita):
Incredible the first animal that dreamed of another animal. Monstrous the first vertebrae that succeeded in standing on two feet and thus spread terror among the beasts still normally and happily crawling close to the ground through the slime of creation. Astounding the first telephone call, the first boiling water, the first song, the first loincloth.
 (Dahsyat nian hewan pertama yang memimpikan makhluk lainnya. Hebat sungguh makhluk bertulang belakang pertama yang sanggup berdiri tegak dengan dua kaki dan menebar terror ke kalangan makhluk lain yang hanya bisa merangkak rapat ke tanah menyusuri lender-lendir penciptaan. Menakjubkan benar dering telepon pertama, didihan air pertama, tembang pertama, sabuk aurat pertama.)
 
Rekan-rekan yang terhormat,
 Sains (pengetahuan ilmiah) adalah bentuk tertinggi dan paling intim percakapan antara nalar dan semesta raya seisinya. 
 
K ita memang tak ingat lagi kapan persisnya percakapan dengan semesta itu dimulai. Yang kita tahu, percakapan itu berhubungan langsung dengan evolusi dan dorongan untuk bertahan hidup di tengah lingkungan yang kompleks, dengan sumber daya yang kadang melimpah kadang kering kerontang. Percakapan itu jelas sudah berdenyut ketika leluhur kita mulai memimpikan dan menggambar makhluk lain di dinding padas, ketika mereka mulai bisa berdiri tegak mendongak menerawang bintang saat makhluk-makhluk lain hanya bisa merunduk-runduk bahkan melata menyusuri lendir-lendir prasejarah.

Makhluk yang sanggup berdiri tegak memandang langit memang bisa membangkitkan rasa takut pada makhluk-makhluk melata kecil di sekitarnya. Tapi kemampuan tegak menerawang langit  itu juga membenturkan mereka pada sejenis rasa takut yang lebih mencekam 
yang tak akan dikenal oleh makhluk-makhluk melata, yakni rasa takut akan maut yang tak terlawan dan hidup yang bisa mendadak hilang.

Ugo Untoro

Karena leluhur manusia tahu bahwa mereka pasti akan mati dan hidup mungkin terputus begitu saja, mereka meramu impian tentang hidup yang abadi. Karena mereka juga punya hasrat yang terus menyala, mereka memburu sesuatu yang pantas buat hasrat itu, sesuatu yang Maha Takterbatas. Dan karena mereka belum bisa merengkuh totalitas langit dan dunia yang penuh rahasia, mereka menghalau rahasia-rahasia yang tak tertembus itu dan mencari penjelasan gampang yang meneteramkan hati.
Ketakutan pada maut, impian pada kehidupan lain yang tak akan pernah putus lagi, dan damba pada yang Maha Takterbatas, menyusup masuk dalam percakapan purba antara nalar dan semesta, berkelindan dengan dorongan untuk bertahan hidup dan berkembang. Bahasa yang tumbuh mekar, mencoba merangkum hal-hal tersebut, menyuling sekaligus memperkayanya jadi cerita, yang kemudian disebar ke ruang waktu yang bisa dijangkau.
Cerita tentang semesta yang disusun oleh leluhur manusia, sangat membantu mereka mengorientasikan diri dalam dunia dan memperbesar peluang untuk bertahan hidup dan berkembang. Tersusun dalam rentang waktu beribu-ribu tahun,  jumlah cerita itu sangatlah banyak, tapi tak semua kuat bertahan mengarungi arus waktu. Dan meski bisa menyentuh, cerita–cerita yang mereka bangun itu, amatlah sederhana, dan lebih banyak mencerminkan si penyusun cerita ketimbang semesta yang diceritakan itu sendiri. Itu terjadi karena pengetahuan mereka tentang semesta, tentang besaran ruang dan waktunya, memang masih terbatas. Dari informasi yang terbatas  dan kecemasan yang tanpa batas itu, mereka mengembangkan narasi yang disusun dari imajinasi mereka sendiri. Akibatnya, cerita tentang semesta itu lebih banyak mengadung “monolog” ketimbang “dialog.”
Pengetahuan ilmiah berkembang menjadi bentuk percakapan tertinggi karena ia berusaha sepenuhnya menjadi dialog. Para ilmuwan memang terus mengamati dan mengumpulkan fakta lalu berusaha menyusun teori. Tapi teori itu hanyalah usulan saja. Teori tersebut, draft cerita rekaan itu, harus dibenturkan dengan kenyataan. Hanya cerita yang disetujui oleh semesta yang bisa diterima sebagai cerita semesta yang ilmiah.
Agar percakapan dengan semesta bisa berlangsung jernih, ilmuwan bahkan harus menahan dan  meyisihkan dirinya. Mereka harus membiarkan semesta bicara sendiri sepenuhnya, dan tak boleh mendahului apalagi memaksakan jawaban semesta. Diktum yang konon berasal dari Immanuel Kant, bahwa pengetahuan, atau pengertian, tidak menurunkan hukum-hukumnya dari, melainkan memaksakannya, pada alam, mungkin berlaku di ranah lain, tapi sama sekali tak punya tempat di ranah ilmiah. Ilmuwan tentu saja bukan pendikte. Mereka hanyalah penyalin setia dari cerita yang dihamparkan semesta. Agar para ilmuwan bisa menjadi penyalin yang baik, mereka harus melengkapi diri dengan kritik dan eksperimentasi.
Kritik dan eksperimentasi adalah tulang punggung, lebih tepat lagi: nyawa, dari ilmu pengetahuan. Dengan kritik, ilmu mengoreksi penalarannya, menyadari sekaligus memperluas batas-batas teorinya. Dengan eksperimentasi, ilmu bertanya jawab dengan alam semesta tentang hakekat-hakekatnya. Jawaban alam semesta pada penalaran manusia, adalah jawaban biner yang tidak pernah berarti “ya”: paling banter hanya “mungkin”, dan yang paling sering adalah “tidak”. Jika sebuah eksperimen memberi hasil yang sesuai dengan prediksi sebuah teori, hal itu tak membuktikan bahwa teori itu benar mutlak, seperti ditandaskan oleh Karl R. Popper. Itu hanya memperpanjang usia kelayakan teori itu. Dan cukup satu saja eksperimen yang membantah ramalan sebuah teori akan membuat teori itu kehilangan kekuatan dan harus dinilai ulang.
Apa yang diperoleh sains dengan teori dan eksperimennya, adalah himpunan dari pengetahuan tentang hal-hal yang relatif benar, yang ditapis dan dipisahkan dari pengetahuan tentang hal-hal yang mutlak salah. Itu 

enyataan besar yang jawabannya mungkin tak gampang dibuka dan tampak tak peduli pada kesulitan manusia, namun sungguh tak pernah berdusta. Ilmu pengetahuan rasional adalah buah dari kesadaran atas rasio yang daif, dan fakta kenyataan semesta yang berkembang dengan cara yang tidak sia-sia. Jika alam semesta dan seisinya ini tak bersedia dipahami oleh akal daif manusia, maka pengetahuan rasional menjadi sesuatu yang mustahil. Nyatanya, sains dan teknologi yang rasional itu telah tumbuh menjadi kekuatan paling dahsyat dalam sejarah manusia, dan kian dahsyat ilmu dan teknologi manusia kian terbuka pula alam semesta membentangkan diri.

Ugo Untoro

Gabungan antara kritik, eksperimen dan kenyataan semesta yang terbuka bagi pemahaman akal manusia (intelligibility), membuat pengetahuan ilmiah tak mengenal istilah “pelecehan ilmu” atau “penistaan sains”. Dalam masyarakat ilmiah, mustahil terjadi seorang penyusun teori atau pelaksana percobaan dituntut dan diseret ke meja hijau. Masyarakat ilmiah tak mungkin goncang lantas meletup naik pitam dan jadi haus darah hanya karena sebaris teorema atau selembar kanvas yang dipajang di sebuah galeri, misalnya. Komunitas saintifik mustahil tersinggung lalu mengobarkan kebencian dan kekacauan, menyebarkan kutukan dan ancaman pembunuhan, atau membakar gedung kedutaan, hanya karena sebuah percobaan kecil di lab, sejilid novel, sepotong film, atau sejumlah kartun yang berselera buruk. Masyarakat ilmiah akan tertawa, setidaknya geleng-geleng kepala, pada gagasan penciptaan pasukan bunuh diri yang militan untuk berjihad membela kehormatan ilmu dari penghinaan musuh-musuhnya. Jika ada hal-hal yang meyalahi dan menggoncang ilmu pengetahuan, entah berupa tersingkapnya kenyataan-kenyataan baru atau munculnya pendapat-pendapat radikal, maka ilmu akan menanggapinya tidak dengan cara yang boros berapi-api, yang menghambur-hamburkan harta dan nyawa manusia.
Ilmu menghadapi seluruh goncangan dan serangan itu dengan mencoba memahami mereka seterang mungkin, memilah-milah pokok soalnya sehalus mungkin, dan itu semua dilakukan dengan kembali ke laboratorium dan perpustakaan. Kalau pun ada perdebatan yang berkobar, itu dilakukan dengan menulis paper berisi kritik dan teori tandingan, sambil membangun instrumen penguji yang makin hebat. Perdebatan verbal mungkin saja rekah, namun tak pernah berpatah arang dengan humor dan komentar yang menjaga proporsi, yang sadar bahwa kualitas isi komentar tak dipengaruhi sedikitpun oleh gegap gempita penyampaian komentar. Jika akhirnya, kenyataan baru yang menyalahi ilmu pengetahuan itu terbukti dapat dijelaskan lebih baik oleh teori-teori baru yang radikal dan mengancam bangunan ilmu pengetahuan yang sudah mapan, maka dengan antusias masyarakat ilmiah meninggalkan seluruh khazanah ilmu lama, yang dengan sendirinya dianggap kadaluwarsa dan terbatas itu.
Pembongkaran sebagian khazanah ilmiah klasik, apalagi pembongkaran seluruhnya, adalah kejadian yang langka dan akan selalu diterima masyarakat ilmiah progresif dengan luapan emosi yang hanya menghinggapi mereka yang memenangkan revolusi. Ijtihad yang tangguh sungguh adalah elan vital dan keutamaan tertinggi dalam ilmu pengetahuan modern; kian radikal dan kian revolusioner ijtihad itu, kian dahsyat pula perkembangan ilmu pengetahuan yang diakibatkannya. Sejak awal abad ke-20, mereka yang berhasil menyalahi dan meruntuhkan pengetahuan lama, akan dihormati sebagai pahlawan ilmu dan diganjar bukan dengan fatwa mati tentu, tapi dengan berbagai penghargaan ― minimal Hadiah Nobel. Runtuhnya bangunan ilmu pengetahuan klasik, yang membuka jalan bagi berkembangnya pengetahuan ilmiah yang lebih maju, memanglah revolusi yang pantas dirayakan ― revolusi yang menandaskan langkah baru dalam perkembangan kecerdasan akal daif manusia.
Ada hubungan dinamis antara penyingkapan kenyataan-kenyataan baru oleh instrument penguji dan pengindera yang kemampuannya terus meningkat, dengan kemunculan pendapat-pendapat radikal yang kerap diilhami oleh

perkembangan matematika.  Seperti puisi modern, matematika memang tak terlalu peduli pada korespondensinya dengan relitas: ia lebih peduli pada keindahan formal dan koherensi naratifnya sendiri. Namun karena sangat logis, matematika tumbuh menghasilkan konstruksi paling abstrak yang belum pernah ada dalam kenyataan, juga konstruksi paling praktis yang langsung bisa digunakan oleh dunia. Itu sebabnya matematika amat membantu sains menyusun model-model kenyataan empiris. Teori Group (group theory) yang mendalami simetri, misalnya, sangat mempengaruhi fisika partikel modern. Teori matematika ini sudah meramalkan kehadiran sejumlah partikel dasar, termasuk Boson Higgs, jauh sebelum instrument penguji memastikannya. Di sisi lain, penyingkapan kenyataan-kenyataan baru yang memaksa sains membangun model-model penjelasan yang lebih bagus, juga mendesak para matematikawan untuk mengembangkan matematika baru. Saling pengaruh dan saling sumbang antara terobosan matematis, peningkatan kemampuan instrument penguji, dan pembaharuan teori ilmiah, menghidupkan dengan sangat semarak kegiatan penyalinan cerita semesta.
Yang menarik adalah bahwa dari kesibukan lintas benua mentranskrip isyarat dan menyusun pecahan cerita dari semesta itu, manusia melihat dirinya berubah dari sekedar penyalin (transcriber) akhirnya  perlahan-lahan berkerja sebagai penulis-mitra (co-author). Mula-mula mereka memang takjub melihat kedahsyatan dan misteri jagat raya seisinya, tapi dengan semakin banyaknya pecahan cerita yang bisa mereka padukan, mereka kemudian kian memahami watak naratif jagat raya itu. Cerita raksasa alam semesta itu sendiri sudah merangsang dan mencengangkan, dan terus-menerus menghapus kehadiran sosok pengarang mahahebat yang sanggup merencanakan segala hal sampai ke rincian yang paling halus. Kisah besar ini tampaknya mungkin tumbuh dari ketiadaan, lalu membentuk diri melalui waktu yang terbentang begitu lama, lewat peristiwa acak dan penggandaan yang jumlahnya nyaris takterhingga. Lewat peristiwa benama peluang, replikasi, mutasi, dan seleksi ini, jadilah cerita yang bukan main kaya yang memungkinkan munculnya sesosok karakter yang sadar diri.
Jagatraya seisinya ini termasuk kehidupan yang berkembang di dalamnya memang sebuah kekayaan dan keajaiban mahabesar. Sebagai sebuah mukjizat, ia bukan main sensitif dan rapuh, dan karena itu menjadi luar biasa berharga. Jika saja cerita mahasemesta ini dimulai dari awal lagi, sangat besar kemungkinan bahwa si karakter yang bernama makhluk berakal itu tak akan muncul. Puncak seluruh mukjizat itu, hal yang paling menakjubkan yang ditemukan dari seluruh pembacaan dan penulisan kisah jagat raya, adalah bahwa karakter yang terbentuk dalam kisah itu bukan saja bisa memahami cerita yang melahirkannya. Si karakter bahkan pelan-pelan bisa melihat betapa cerita itu, termasuk si karakter sendiri, menyimpan sejumlah kelemahan, sejumlah cacat, yang mungkin bisa, bahkan menantang untuk, diperbaiki.
(BayangkanNyai Ontosoroh, yang perlahan-lahan sadar bahwa dirinya ternyata adalah ciptaan, dan bahwa pengarangnya sungguh tak sempat jadi novelis yang benar-benar hebat: ia penulis dengan semangat yang cemerlangnamun dengan nasib yang kelam.)
Dulu Albert Einstein pernah berkata bahwa yang paling tak terpahamkan tentang alam semesta ini adalah bahwa semesta ternyata bisa dipahami. Ia termasuk yang takjub pada gejala semesta raya yang tampak lebih gampang menyingkap misterinya jika manusia merumuskan pertanyaannya dalam bentuk matematis. Kini kita bisa bilang bahwa manusia, dengan nalar ilmiah dan imajinasi matematisnya, bisa memahami alam semesta karena keduanya,semesta dan matematika,sebenarnya satu; keduanya digerakkan oleh semangat yang juga menghidupkan puisi yakni dorongan menggapai yang tak terbatas dengan bahan-bahan yang terbatas, dan dengan menghormati larangan yang telah melahirkannya dan meremehkan larangan yang bukan bagian dari dirinya. Ini juga yang menjelaskan gejala yang disebut oleh Eugene P. Wagner The unreasonable effectiveness of Mathematics in Natural Sciences.  Dorongan menggapai yang tak terbatas dengan bahan-bahan yang terbatas itu, menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, dan mereka bisa saling menerangi satu sama lain.
Pemahaman tentang watak puitis (poesis) dari matematika dan semesta raya itulah yang ikut membuat si karakter bergerak dari fascinatum et tremendum ke existential pleasure of engineering. Di ujung kenikmatan yang tak terkira itu, ia kembali terpukau  mendapatkan berkah yang tak ternilai besarnya yang sebenarnya tak pantas ia terima, yakni kesempatan untuk menyunting dan meneruskan naratif besar semesta raya seisinya, agar berkembang lebih baik, lebih sempurna, dari yang sebelumnya.

Bangga The Last Letter (2013)

Kerja penyuntingan itu tentu dimulai dengan menyunting dan menulis ulang konstitusi biologis si karakter sendiri agar sesuai dengan kebutuhan naratif yang berskala semesta. Immortalitas yang dikejar dan gagal diraih oleh Gilgamesh ribuan tahun yang lalu itu, namun yang kini mungkin dicapai lewat penyuntingan konstitusi biologis itu, adalah salah satu tanggapan wajar atas kebutuhan naratif berskala semesta. Immortalitas itu sendiri adalah unsur yang sangat penting dalam permainan semesta yang luar biasa menakjubkan, yang gelanggangnya terbangun di atas dasar  bahwa semesta matematika yang penuh kemungkinan itu, memang jauh lebih luas, lebih kaya dan lebih liar dari semesta fisik; bahwa semesta raya fisik kita yang tampak begitu megah dan angkuh namun sebenarnya terhingga itu, sungguh dirundung oleh hasrat yang berkobar dahsyat untuk meniru semesta matematika yang sungguh tak berhingga namun bisa digapai oleh imajinasi makhluk cerdas yang terus menerus berkembang. Pendek kata, meminjam Oscar Wilde, sebagaimana kehidupan berupaya meniru seni, alam semesta juga berupaya meniru matematika, dan interplay antara matematika dan semesta fisik itu adalah undangan bagi kecerdasan untuk memainkan perannya yang bukan main berharga: berkah terbesar di alam semesta.

Referensi sastra kalatida_,

Selaput darah Asy~

Astronom itu berkata, ” matahari tinggal separuh lagi usianya.” ia membuat kita terkejut, takjub dan sedih. Tiba-tiba kesementaraan hadir di mana-mana: deru mobil yang terdengar dari luar, teriak anak bermain basket, kicau burung yang mecari ulat.

Dalam bentuk nya yang sekarang, astronom mengatakan lagi, usia matahari sudah tinggal 4,5 miliar tahun. Sudahlah itu hanya prakira, nabi jarang menunjukkan hal yang aneh. 

Malam ini menunjukkan pukul 18.24, gerimis masih menjaga kesejukan kepulauan gang daerah kost pesisir kota. Maksud saya tempat tinggal sementara area kota atau sekitar kota. 

Asy, Pulau itu tampak cerah dan mendedikasikan kerinduan akan masa yang mendatang. Entah geming seperti apa yang terasa, kakimu menjejakkan langkah disana, memetakan rasa dengki akan kesedihan yang mendalam, mencoba menyelam tanpa perlengkapan anti kematian, kau coba menyampaikan surat terakhir yang sulit untuk ku baca, dengan sikap apatis menyelinap dalam tentakel jaringan otakku, yang selalu ku telan mentah-sedikit matang, itu tidaklah menyedihkan.

Laut selatan, tersimpan cerita fiktif dan bermuat tentang kias kepercayaan masyarakat disana.dan perahu ini di ciptakan dengan alasan menyediakan perjalanan panjang dan bergejolak di atas dek nya. Iya, sempat teringat tentang pemberangkatan ku belajar dan berpredikat di pulau jawa empat tahun silam, apakah sengaja, ini menjadi media pengingat akan kepulanganku kembali pada desa yang sudah susah payah meletakkan ku disini ??

Syair seorang Pram mulai menjelaskan mengapa lautan itu butuh di ciptakan dan mengapa negeri udara itu tak butuh kota, desa dan manusia untuk tinggal disana. 

Kapal ini menganjurkan usia dan menetapkan keberadaannya selama puluhan hingga ratusan lamanya, mereka akan hidup menemani setiap generasi yang tersisa dari silsilah keluarga kecil berkebangsaan nelayan.

Tempat sempit bermuat terbatas, hanya kau dan aku, ngarang. Maksud saya tempat yang membatasi tentang bobot beberapa manusia saja, tempat meliput dan men-doc aktifitas sosial media mereka, berfoto foria dan selfi, Menyebalkan.  

Tidak sesederhana dan sesempit atau sangat menyenangkan seperti yang di rasakan. Kapal ini, tempatmu meletakkan langkah gontaimu, terlihat akrab dan patuh pada penempatan pose yang kau bingungkan . Ia memiliki cerita kelam dalam lintas kelahirannya, tak seperti bayi manusia umumnya, sehari setelah di lahirkan ia harus menemani pencipta untuk mengarungi lautan, air asin, serta ghaib ombak bersamudra yang mengpotensikan kematian, ia memang taat pada tuan dan Tuhan.

Kapal ini ingin mengatakan suatu kecurigaan terbesar saat berada di pantai, melihat sekelilingnya pemuda dan pemudi pelancong lokal yang kurang arif karna memuat fikiran dan gairah atau bungkam akan setia.ia sesempat mungkin untuk berbicara walau hanya menggunakan khiasan dan suara dek karna pengaruh angin saat bersamudra.

Selanjutnya ia akan terus berenang menjaga kemaslahatan manusia, ikan dan Tempat Pelelangan Ikan. Sebenarnya ku takut akan mendekat pada pusat kemudi atau alat penggerak pada poros belakan badan kapal itu, karna wajahnya telah mencengkram penglihatanku yang mulai beranalisa. Ia hanya bertanya-tanya dengan hiperboria meyentak obrolan seorang kawan lama, iya, dia menyapaku, ia senyum padaku, dan berusaha memberi kesempatan untukku untuk segera mendekat. Kapal itu mulai mengingat siapa wajahku sebenarnya. 

Ia seakan menangis, saat ku mulai meraba sisi kanan lengannya yang terluka, rusak dan terkikis mentari. Ia mengalami kesulitan dalam melintasi batu karang yang hendak ia hindari, hanya burung laut yang mampu mengerti pasakitannya. Aku seolah menjentikkan kembali alam bawah sadar untuk mengerti duka yang sudah membisukan dirinya. 

Sudah lebih dari 3 hari ia tidak berlayar, nelayan pun tak kunjung datang menemuinya, nelayan itu adalah orang yang terlampau tua dengan segenap arsip perjalanannya. Terdengar kabar dan nada kehidupan dari nelayan yang sempat melintasi posisi obrolan kami, orang tua itu telah meninggal ;

Saabar..” seruku. Ia hanya tersenyum dan meledekku karna seolah ku di anggap sedang bersedih karna menganggapnya bersedih. Ia hanya sudah dua generasi menemani manusia dan di tinggalkan karna pemanggilan mereka oleh tuhannya. Ia seolah terbiasa dan seolah olah tidak mampu merindukan sesuatu. Saya tidak bermaksud menertawakan obrolan kami. 

Bagaimana denganmu? Kapal itu membisikkan suara sengan nada jatuhnya kepiting kecil dari bagian badannya. Saya tetaplah di sini dan harus segera kembali. Sahutku diam. Angin pantai menggerakkan bendera dan layar yang terpasang di dek utama itu, ia seolah berbisik melalui kode angin yang menggerakkannya, “bagaimana perjalanan kisahmu, kisah suci setia, tak tersentuh, murni dan putih sebening embun”??
Perjalananku tak semanis atau sepahit perjalananmu, menyatukan dua karakter yang berbeda bukanlah hal yang mudah meskipun itu tidak sulit. Dia punya peta perjalanan yang berbeda denganku kawan, meskipun ku yakin itu bukan hal yang sulit agar bisa menjinakkan egois dalam diriku atau kebanyakan darinya. Lagi-lagi kau hanya tersenyum. Ada apa ??

Pergilah, menjauh sejauh mungkin dari hadapanku, sahutnya khayal. Pergilah, mulailah untuk memulai, pergilah menghardik perjalananmu, entah itu masa depan atau masa yang akan mendatang, berjanjilah untuk datang menemuiku kembali dengan seorang kekasih atau hanya seorang diri, ku kan menunggu kedatanganmu dan ajarkan padaku sejauh mana kesulitan itu menemui dan dan bermuara di keningmu. Tangkasnya. 

Maaf, apa maksudmu ?? Ku tak mengerti mengapa secepat itu kau mengusirku ? Tanyaku marah. Dan suasana itu kembali menyergapku pada realitas sebenarnya. Anak-anak bermain layang, nelayan dan wisatawan mulai terlihat jelas, dan semua menjadi seperti semula. Ia tetap di sampingku tanpa nyawa dan tampak seperti benda mati sediakala. Iya, dia benar-benar mengusirku, gara-gara kau yang ku ceritakan padanya.

Kekasihkuair ini adalah alas kendaraan untuk kepulanganku, dan udara adalah altar tercepat untuk pergi jauh hingga rindu itu melibatkan kita pada deru air mata tak mampu melepas sesuatu yang setia dan jumlah keyakinan atau perhitungan akan angka kesatuan ?? 

 To be continue… 

Membantah Masa Depan 

Porsi hidup  sudah kita perhitungkan dari macam- macam jenis kemungkinan terhadap tuntutan ke dalam relung hati terdalam mengenai renung dan ber-hening cipta. Kehidupan saya berangsur-angsur berbeda dan senantiasa dinamis, bagi saya itu adalah kesalahan melihat masa depan, karna masa depan belum bisa di lihat apalagi di raba.

Kalaupun saya mampu melihat masa depan, saya pasti sudah memutuskan untuk mati dan tidur lebih cepat. Betapa tidak, Saya melanggar etika persaingan menuju puncak surganya. Dalam suatu perjalanan hidup saya semasa kuliah dulu dan kini, bisa dikatakan saya adalah bangsa nomaden yang mirip dari gaya berpindahnya. Namun bedanya saya hanya berpindah dari satu forum ke forum yang lain (warungkopi). Karna Harga kopi pun relatif murah, berkisar dari 2500 hingga 3000. Namun saya lebih berselera dengan kedai pak anggrek yang hanya 2000 per gelas kopi. Jangan salah !! saya belajar tentang segala hal di sana, kompetisi belajar saya berasal dari sana, strategi pemikiran, dan imajinasi membunuh ketidak adilan, ideologi, cocokologi , ekspektasi, sampai sungkanisasi. Dosen itu adalah guru yang masih saya unggah ungguh dan up load di rasa dongkol saya. Maaf tidak semua, karna masihbada disana yg mau mengerti bagaimana saya. Hehehe

dosen saya seringkali meninggalkan tugas lalu menyudutkan saya dalam meja yang menyebalkan, dan yang lebih menyedihkan, Ia bertanya suatu hal yang pastinya belum saya fahami, kalaupun saya tidak bisa menjawab, saya di justice salah dengan bahasa sistimatisnya, yang kurang belajar lah, kurang membaca lah, atau malas lah, intinya dia mau bilang saya bocah “goblok” dosenku memang pandai meluaskan pemaknaan. bukan nya saya malah pandai dengan pertanyaan-pertanyaan sulitnya, justru saya malah takut dan semakin tersudut pada keputus-asaan dalam menuntut ilmu. Dan tega sudah mengeluarkan saya saat saya membantah argumennya. Jiancok!! Terkaget saat Tiba-tiba temanku bersuara keras dan aneh, maaf dia suka gitu, itu adalah gaya bahasa surabayaan untuk menghardik penindasan dia oleh dosen nya. Ada apa ? Tanyaku. Saya di keluarkan karna di anggap sok kritis. Sahutnya. Dan kejadian itu pun terjadi.

Saya tetap semangat belajar walau sebenarnya ini sudah tidak asyik, saya cukup bertahan, alasan pertama, saya tidak bisa bermain main dengan uang yang sudah saya tukar dengan slip pembayaran. Dan saya sedang antri “masa depan” di kampus ini. Jadi saya harus patuh terhadap aturan yang ada, walau sebenarnya saya tidak ikhlas melakukannya.Siapa tahu saya mendapat tiket di kampus ini tentang bagaimana saya meraba masa depan, maka saya biarkan bagi mereka yang sok pintar dengan motivasi konyol karna sudah memiliki status sosial yang baik, masa depan yang sudah ia raih dan tukar dengan jumlah tahun yang sudah di pertarukan nya.mungkin itu bisa di katakan ideal, namun saya belum membutuhkan itu.

 Saya lebih tertarik melirik mereka yang di anggap gagap dan gagal meraih masa depannya lalu menyertakan keringat nya saat menarik becak tua nya atau tukang sol sepatu keliling menawarkan jasanya. Namun semua menjadi berbeda, Di sana saya bisa di terima, dan terasa dekat, ruang imajinasi saya mulai terurai menjadi butiran cinta yang tak ternilai harganya. Saya mengerti arti masa depan karna kalut, keluh dan kesahnya saat bapak yg tua dengan wajah lelahnya bermujahadah meraih masa depannya, walau sebenarnya mereka tidak berfikir sejauh itu, 😉 jadi, bukan motivasi agar bisa mujur, Tapi gambaran saat ia merintih itu yang tidak sengaja memotivasi saya menjadi manusia yang menolak arti fana tentang masa depan di kehidupan yang kedua. Bersambung….. 

7 november, 2016

Jendela darwis

 Saya sepakat kalau kebaikan menempatkan takwa pertama dalam jumlah kelahiran nya. Banyak orang meyakini bahwa manusia mampu belajar dari interaksi lingkungan yang ada. Kawan-kawan saya memiliki kepribadian yang unik dan begitu beragam, setiap pribadi memiliki otonomi dalam mengemas kepribadian dirinya sebagai mahluk sosial, saya menyempatkan bahasa ilmiah, saya katakan otonomi. Iya saya masih mahasiswa walau sebenarnya mampu untuk menyudahi nya beberapa bulan yang lalu. Wanita kita, maksud saya wanita Indonesia, bukan wanita kamu dan saya, itu berbahaya. Wanita Indonesia pada masa kini mulai memahami bagaimana tren taat, bahasa yang begitu menyenangkan di telinga saya adalah Hijrah ?? ;-).

 Ada apa sebenarnya dengan kondisi wanita Indonesia kita yang muslim pada sebelumnya ? Apakah gagasan ini jawaban bijaksana dari polemik negeri kita tentang ala penampilan neolib ? Atau hadirnya nuansa K – pop atau tren rambut Kesumba berwarna ? Wanita Indonesia yang menganut agama Islam pasti mencoba untuk menjawab tantangan yang tidak sesuai dengan tren khas Agamanya. Mereka harus memamerkan kembali indusri pemikiran muslimah indonesia yang meletakkan tutup kepala mereka lalu tidak mengetatkan ukuran pakaian nya. Terpaksa bekerja keras dengan menawarkan barang dagangan nya dalam beberapa macam akun di jejaring sosialnya yaitu dalam rangka berjihat dalam edukasi islami yang sejalan dengan perkembangan zaman dan sesuai substansi religiue pastinya. 

Ini merupakan moment kompetisi dengan tren yang lebih menawarkan pada suatu gugatan terhadap kedatangan sebuah tren baru. Saya sangat menyukai tren muslimah pada edisi tahun lalu apalagi tahun ini, pakaian yang saya anggap sopan, anggun tanpa bentuk tubuh yang terpahat di pakaiannya, corak bunga coklat dan pastinya agama pun setuju melihat kondisi style muslimahnya, jujur saya tidak nabsu, justru sebaliknya, bermimpi menjamah kedalaman pakaian nya di saat itu tidak melanggar hukum, apalagi saya mahkluk fisual ? terbukti, saya tidak memandangnya sebelah mata, saya pun tidak melotot atau kenakalan yg masih 2terkontrol karna belum bersiul, ini akurasi sosial yang sangat masuk akal, saya hanya bangga menjadi pemuda muslim, meskipun jarang mengaji, minimal saya berbuat baik karna menuliskan in, saya lebih suka melakukan sebuah oerintah dengan imajinasi baik saya. Karna saya yakin tuhan itu memahani sastra jauh di banding diri saya. Suatu hal yang saya fahami, muslimah itu sedang merahasiakan kemuliaan nya dengan pakaian yang sakinah. Dan keseluruhan dari kebaikan dirinya itu hanya untuk suaminya, lalu, saya kan laki-laki ?? Asyik. 

Semua keindahan ada dalam rahasia yang selalu ia sembunyikan dalam pandangan sekitar, sampai salah satu kawan perempuan saya yg sering kali menyebut dirinya ukhty, apa itu ? Artinya Dia perempuan. Menuliskan dalam salah satu foto instagramnya, mengilustrasikan seorang wanita yang menunggu di dalam rumahnya sampai seorang lelaki datang dan memiliki keberanian untuk melamarnya, ia katakan, “kau tak perlu beralasan, bawa jasad mudamu yang sudah kau sucikan dari nabsu sebelumnya, dan jelaskan keuletanmu kepada kedua orang tuaku. Menangislah kepada Tuhanmu sebelum kau menangis maaf kepadaku. Maka halalkan aku dengan kesederhanaan cintamu. “kurang lebihnya seperti itu. Ah mengharukan sekali.saya tidak bisa lama-lama dalam piano kata dia.  Yg pasti saya Berharap mereka bertahan pada peradaban dinasti syariat yang mereka bawa di pundaknya sekarang ini.Karna di kemudahan menjalankan tugas Tarjim An-Nisa  membawa mereka pada keindahan dan kekuatan memperkenalkan kepada sesamanya, bagi saya keindahan adalah perjalanan sementara seorang masinis, lalu bagaimana jika sulit itu melanda dan berusaha meruntuhkan tekat yg sudah di rindukan kelahirannya.. ? 

Orang mudah kau perdaya, namun kemurnian itu akan berhenti dr dirimu sendiri, meskipun kau hanya tersipu bangga.

 Bertahan dari kemalasan, atau melawan kekhawatiran untuk menjaga eksistensi dirinya saja itu adalah apresiasi ilahi. Jangan menyerah. Melumpuhkan diri sendiri adalah salah satu cara menghardik dunia. 

dini, 6 November, 2016

Kias Athena

Semua berakhir pada nuansa yang membawa kita kembali pada suasana yang mungkin pernah terjadi, Athena atau Pallas Athene (Παλλάς Αθηνά; Παλλάς Άθήνη) dalam mitologi Yunani adalah dewi kebijaksanaan, strategi, dan perang. Saya tidak menginginkan anda adalah manusia setangguh patung cantik itu, Athena juga dikenal sebagai dewi yang menolong para pahlawan. Athena adalah seorang dewi yang terlahir sebagai perempuan dewasa dan tak pernah digambarkan sebagai anak kecil. Athena tidak memiliki suami atau kekasih sehingga disebut sebagai parthenos (“perawan”), Hefaistos pernah mencoba memperkosanya namun gagal. Kuil Parthenon di kota Athena, Yunani adalah kuilnya yang paling terkenal.

Menurut legenda, Athena adalah putri kesayangan Zeus, dewa terkuat. Ibunya adalah dewi Metis, yang merupakan dewi pemikiran dan kepandaian, dan terkenal sebagai dewi kebijaksanaan. Athena diberkahi kekuatan oleh ayahnya, kepandaian dan kebijaksanaan oleh ibunya.

Namun kau menunjukkan perbedaan dr setiap penciptaanmu yang tak bisa di samakan oleh seorang Athena, Ataukah kaulah seorang Athena sesungguhnya yang terlahir sebelumnya ?? 

Mungkin sekedar atau hanya lintas paham yang masih belum masuk akal, namun bukan sesuatu yang tidak masuk akal kalau itu memang benar, kau seorang gadis yang belum terlepas dari ikatan arca atau segel dari sebuah berhala ??

Banyak yang berfikir kau tak bisa di lepaskan begitu saja, karna itu hanya akan menjadi wabah kerinduan yang teramat menyakitkan, cintamu dapat menggiring batalion lumba hingga ke puncak kebinasaannya. Hatimu akan mematahkan semangat dr hati yang selalu berharap pada sebuah penciptaan kebersamaan denganmu. Dan pemuda adalah tumbal yang akan selalu bersedih. Termasuk aku. 

Dan itu tidak akan berakhir begitu saja, maka lihatlah pada dalam masa depan, kau tanpa dengan sengaja berulangkali melatih untuk mengepakkan sayap anak mu ..

dan anakku 

Apa manfaat  saat setelah mendapat gelar”Sarjana” ?

Kuliah adalah seperangkat  adat yg di ciptakan untuk membedakan mana yg tolol dan pandai meng-tolol-in. Em sebenarnya tidak sesederhana itu, tapi ya sudahlah, laigian yg tolol juga belum tentu mengerti kalau sedang di tolo-lin. Nikmati saja. 😉 lalu rasakan akbatnya.

Sebenarnya kuliah itu ajang memanjangkan idealitas tentang model berfikir, dan ngakalin adalah hidangan yg sangat di istimewakan. Kan ada materi strategi dan siasat, gampang nya itu ngakali. Hampir sama dengan ngapusi. Ga usah ngakak.

Sarjana kita adalah orang yg membawa berjuta wacana pemikiran baru, agent perubah, manusia yg siap bertarung di kancah karier sekaligus manusia paling mamong dan posang ( bingung)  saat wisuda itu selesai di selenggarakan. korban utama serta tolak ukur selanjutnya adalah kekayaan ayah dan bunda. Mampus.

Kita membuka dan membangun penjara lalu menutupnya saat setelah kita sudah di dalamnya. Jadi saya akan selesaikan dunia perkuliahan saya sembari berfikir dan menunggu kapan waktu yg tepat untuk membingungkan nasib saya setelah uang dan waktu saya terkorbankan. maaf, maksud saya uang orang tua. Saya masih harus membayar nota pembayaran sebelum mereka melupakan kerasnya semua bentuk perjuangannya saat muda tolol saya.

syifa aqila

Hadiah macam apa yang kuterima dari hari ulang tahunku yang ke-23 ?, sembari ku meminta pada Tuhanku untuk menunjukkan dimana letak hatimu 

Ku hanya laki-laki yang berdosa dan tak faham apa-apa.. Tak semanis penalaran sajak yang sebenarnya telah kau baca

Kau hadir layaknya makhluk yang tak berupa, hanya mengenakan selendang wanita turki dengan kecantikan kewibawaan dalam inisiatf pemikiranku, kau tak mengenal siapa-siapa, tak tersentuh oleh kalimat imperial, pergaulan fana, namun kau memilih mengenakan bahasa manja,kalimat lantun dan prakata bersahaja.

Entah apa yang sebenarnya telah terjadi ? Kau membuatku begitu takut akan keterlambatan menyambut pagi yang redup, dan kau menyergap segala kekhilafanku akan setiap maksud yang ababil. Ku mohon, jangan sampai kau katakan bahwa kau adalah utusan tuhan yang sengaja diturunkan untuk menjentikkan kebajikan dan kebijakan

Syifa, malam ini begitu dingin dan begitu larut untukmu, mengapa kau memintaku untuk menyertakan lelah tanganmu hanya karna pemuda yang selalu belum sempat kau kenal baik ini ?, setidaknya kau dapat beristirahat malam ini.

Kau tak pantas mendapatkan jumlah malam yang begitu larut bersamaku, ku tak ingin kau terlihat pucat, dan terlampau kelelahan, walau sebenarnya itu tak sedikitpun merusak jumlah kecantikan sikap dan kemahiranmu dalam memperhatikan setiap alasan setiap tingkahku seolah mengapa itu di anggap bersalah.

Syifa, “ku harus benar benar menyerah, aku sedang jatuh cinta pada Tuhanmu, entahlah ku serasa tak berdaya, begitu lelah, ku tak sedang berdusta, apalagi berusaha merayu, dengan senantiasa bertanya, alasan sebab mengapa kau ada di setiap malam kelelahanku”

 Syifa Aqila 

Ketika Cinta ber- Dzikir 

Ketika setiap makna cinta hanya mengandung dosa,, maka siapa yang tega menciptakan cinta ? Semoga pertanyaan ini salah.

Ketika ku harus berhenti bersyair karna itu hanya mengandung dosa maka dibenarkan kah kalau cinta itu ada ? Kuharap mendapat jawaban sakinah dari setiap pemintalan kain sutra kesutastraanku.

Bagaimana nasib cinta mereka yang sering kali tersangkut pada goncangan gubuk tua ? Dan bagaimana kah cinta mereka yang hanya sekejap mencicipi manisnya wajah, pantai dan bikini kualitas morena ?

Atau mungkin gunung tak berdosa yang menjadi alasan pendakian dengan wajah penuh gairah ? 

Kita berangkat dan pulang dengan segenap alasan yang mudah di terima. Iya, di tempat itu alasan dan kesan pertama,

Diam, ataupun bersabar menanti kau kembali dengan sakinah, itu hanyalah seberkas arsip kumuh akhir dari perjalanan panjang nasib seorang pekerja, yang hanya memuat segala bentuk kelelahan di masa muda.

Pastinya kita memilih,,, berada duduk di belakang sang kekasih dan memeluknya sambil berkendara, penuh kasih dan sayang, lalu sambil memutar rekaman lama hasil liputan malam senja sebagai bukti tanda cinta, kasih, dan pengetahuan alam dan semesta milik berdua.

Sedang perangkat alat  tuhan hanya kau letakkan dalam tas sebagai alasan kuat mengapa kalian pergi,,, lagi lagi itu hanya menambah kesibukan malaikat yang sebenarnya sudah mulai muak untuk selalu mencatat.

Semua berjalan dengan cinta yang kalian peralat, begitu buas dan meledak-ledak. kini waktu benar-benar marah, meminta alasan sederhana akan munculnya kehadiran seorang putra, putra daerah, daerah tempat yang pernah kalian singgahi, tempat memadu kasih dan setia abadi.penyesalan dan tangis kalian tidaklah cukup, dan memalukan, ingat kau telah begitu dewasa. dan kejadian itu sudah di luar kendali tuhan mu, jangan menangis pada tuhanmu, ia sebenarnya begitu muak dan lelah dengan kecerdasan kalian berlogika..walau sebenarnya IA maha segalanya.

Sedang di alam yang lain, zona yang lain atapun suasana yang lain, ia telah mengajarkan atau melukiskan bagaimana nasib seorang adam dan hawa?

Ada kalanya kita benar benar berhenti merasakan hasrat cinta dengan memulai kembali menghargai nasib cinta, 

Cinta bukanlah sebungkus perilaku nyata dan kebebasan berlogika dalam ruang perjumpaannya, apalagi berbicara tekhnik pelaksanaannya, hal itu bukan rangsel kepanitiaan bung !!

Cinta hanya sekumpulan cerita, syair yang halal, kalimat mujahadah, doa pengabulan, butiran dzikir yg tertabur teratur,indahnya kesabaran, tasamuh, perhatian tanpa penglihatan, niat istiqomah tanpa butuh balasan, tangis pencerdasan, pembelajaran, tak tersentuh, peka namun bukan tangan sebagai usapan, apalagi paha sebagai bantal kepala para tuyul yang begitu sopan, bukan pelacuran kalimat, ataupun seksualitas prakata, emansipasi dan bukan hiper realitas.
Semua adalah bentuk kesungguhan atas asas kesatuan, namun bukan raga berdua dalam kesatuan. 

Semua pasti berakhir dan akan selalu berakhir dengan bergantung pada masing masing kualitas perangkat berfikir dan kesungguhan dzikir dalam pencapaiannya. 

Maka kamushidup dr kaidah relevansi dan korelasinya nya ialah cinta itu kekal, ADA dan tidak berbahaya untuk manusia dan untuk cinta.maka mudahkan lah, lalu mintalah petunjuk kalau kau masih percaya pada pemilik cinta.

Tuhan “menyeru” ku untuk menjemputmu

Mungkin ini pilihan terakhir ketika saya seringkali mengakhiri kisah kasih tanpa hasil yang hakiki. Dan karna ketakutan yang sedikit konyol, namun bagaimana bila Tuhan “menyeru”ku untuk memilihmu? Kamu sangatlah cantik, Dengan dilengkapi senyum yang menyengat segar di ingatan para pria, Subhanallah, sahutnya. namun bukan saya yang mengatakan itu, saya hanya ikut-ikutan karna kebetulan saya berfikir sama dengan mereka.
banyak yang bilang wajahmu itu bagaikan kulit sapi yang di sulap menjadi nasib penutup sampul al Quran, di simpan di tempat yang suci, setelah di baca maka di cium. Namun saya tidak akan biarkan mereka melakukan hal yang sama padamu, entah mengapa ..
dan tugas saya waspada menyimpan nasibmu dalam etalase, sembari bisa memiliki atau menciummu saat benar benar ku punya uang dan jiwa sehat untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mulia itu. Dan ketika mereka terlebih dahulu lalu siap, maka apapun dan berapapun jumlah uang mereka, maka ku tak rela dan apaun alasannya untuk mereka terlebih dahulu mencoba mencumbu bibirmu, ingatlah! mereka hanya tertarik pada kecantikan mu, tatap wajahmu, dan caramu menggerakkan senyuman,, dan saya hanya ikut ikutan, namun dengan bermodalkan menambah sepotong ketulusan untuk menjemputmu pulang dan menemui akat kemuliaan, percayalah, kau hanya milikku, walau saya sebenarnya sedikit nekat mengucapkan, tapi saya selalu berharap kini Tuhan di pundak saya memastikan keberhasilan dari mujahadah saya.

Ruang kelas Lantai atas

Pagi yang panas karna memang ku terlambat menjumpai sekolah.
Ku tak akan bercerita terlalu panjang, karna novel itu sedikit kronologis, iya pagi itu hari dimana ku harus masuk praktik profesi jenjang perkuliahan, dan ku terlambat Namun tidak peduli dari pada harus kembali, dan hanya merugi karna dalam keadaan wangi dan rapi. Rambut ini sudah menghabiskan se sashet samphoo, lupakan.
Setelah upacara bendera di halaman sekolah, akhirnya kepala sekolah memberi penjelasan dan pengenalan sekaligus sosialisasi tentang kedatangan kami di sana, yg sedikit mengagetkan, ternyata ada mahasiswa kampus negeri yang telah mendahului kami, lagi-lagi ku sedikit risih, ya mungkin banyak hal yang menjadi pertimbangan, serta rasa yang kurang nyaman karna kami di hadapkan pada suatu persaingan ketat dalam memilih kelas dan jam mengajar. Dan di anak tirikan, Ini baru pembacaan saya ketika hanya melihat bukti suasana yang muncul dikepala, analisis yang berselera. Saya yakin ini akan meleset serius.
Pagi itu dengan pelantang suara, kepala sekolah menginstruksikan kepada para praktikan seperti kami untuk memeriksa tas pada masing2 kelas, dan murid sementara tetap berbaris.
Kami bubar dan segera menuju kelas dengan berpencar, dari kampusku di silangkan atau kasar nya di sandingkan dengan kampus negeri itu. Yah sampai disini tidak ada yang menarik, karna ini bukan permainan, saya terlalu sering nongkrong di warkop diskusi. Maklum aktivis kampus.
Kuperiksa satu per satu tas pada setiap laci siswa. Ups yang di depan tak usah, itu milik guru nya.
Awalnya ku sendiri dan bertanya-tanya mengapa kusendiri saja dikelas ini?, dan ku memutuskan untuk tak peduli itu, dan melanjutkan pemeriksaan. Saat ku asik dengan peraba-raba isi dalam tas, terdengar suara sepatu ber -hack. Dia praktikan wanita. Manis, namun masih kurang, agak sedikit berjerawat atau hanya perasaanku, tak peduli. Karna ku baru mengenalnya. Ya mungkin karna ku mengerti kalau seorang pria itu pengalah, dengan terpaksa ku tegur sapa wajah asingnya terlebih dahulu. Keren.
Signifikan, Seketika kami akrab, 5 menit, ku telah tahu siapa namannya,dimana tempat tinggalnya, jurusan kuliahnya, dan berapa lama ia mengajar disana, ku harus berlagak sedikit formal ean sopan karna ku membawa nama secara pribadi dan kelembagaan kampus saat perkenalan itu dimulai, keren.
namun setelah ku fikir kembali, itu hanya lah suatu hal atau pertanyaan yang wajar saat berkenalan. Sial, Terlalu mudah ku puaskan perjumpaan itu, itu kan wajar? Manun ini pesan dan isyarat pertama yang layak ku kisahkan, dan ingat kembali saat ku dudukbdi kursi guru sambil menunggu para murid menyelesaikan angket dari ku, calon guru macam aku? Berulangkali mengklarifikasi akan hal itu, pertanyaan besar dala benak ini, apakah dia sengaja Tuhan kenalkan padaku? Entahlah, sudah saatnya untuk menjelaskan kembali isi angket ini pada para murid. Dan persoalan yang tadi itu…. Guru dengan jerawat pada pelipis kanannya,, ku lupa lagi nama panggilannya, kebiasaan.To be continue…